Ketua Tim Satu Hati Berdoa Berkati (SAHABAT) Papua, Darius Nawipa. Foto: Jekson
Jayapura, Majalah Selangkah -- Ketua Tim Satu
Hati Berdoa Berkati (SAHABAT) Papua, Darius Nawipa, Selasa, (9/4/13) meminta
kepada Gubernur Provinsi Papua terpilih Lukas Enembe dan Klemen Tinal membangun
menara doa di seluruh kabupaten Papua untuk atasi krisis di Papua. "Kami dari Satu Hati Berdoa Berkati Papua
harapkan untuk agendakan dan gelar acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), Doa
Puasa, dan Pujian dan Penyembahan di seluruh wilaya Tanah Papua. Pusatnya di
Ibu Kota Provinsi Papua (Jayapura) dan Papua Barat (Manokwari), sedangkan di
setiap kabupaten membangun menara-menara doa,"harapnya.
Ia
berharap dengan melakukan hal ini Tanah Papua mengalami transpormasi secara
utuh."Harapan kami, untuk Papua menuai Transpormasi secara utuh dari berbagai
ketidakadilan yang selama ini terjadi"kata Darius. SAHABAT
Papua terus mendorong terjadinya transpormasi di tanah Papua. "Kami terus
mendorong terjadi transpormasi di tanah Papua. Itulah visi dan misi SAHABAT,"jelasnya.
Terlepas
dari harapannya, Darius apresiasi atas pelantikan gubernur orang gunung pertama
sejak Papua diintegrasikan dengan Indonesia tahun 1969. "Kami berikan apresiasi
kepada Enembe dan Tinal. Mereka adalah gubernur orang gunung pertama. Juga baru
pertama kali pelantikan dilakukan di lapangan terbuka, Lapangan Mandala
Jayapura,"kata apresiasi. (MS)
Kita sering melupakan Puji-pujian.
Padahal Alkitab berulang kali mengingatkan kita mengenai kuasa yang begitu
besar yang bersemayam di balik puji-pujian. Lihatlah bagaimana Gideon dengan
prajurit berjumlah hanya 300 orang mampu menaklukkan musuh tak terhitung
banyaknya, seperti belalang dan pasir di tepi laut, lewat puji-pujian dan
gemuruh suara sangkakala seperti yang bisa kita baca dalam Hakim Hakim 7.
Lalu perhatikan
kisah ketika tembok Yerikho runtuh di hari ke tujuh setelah dikelilingi
berhari-hari. Apa yang membuat tembok itu runtuh pada akhirnya tertulis di
dalam Alkitab. Selain memang Allah sendiri yang telah menjanjikan,
"Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke
tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah
perkasa." (Yosua 6:2), tapi lihatlah bahwa pujian dan sorak sorai bagi
Tuhan membuat tembok itu akhirnya runtuh. "Lalu bersoraklah bangsa itu,
sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala,
bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu
mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan
merebut kota itu." (ay 20).
Dalam Perjanjian
Baru, kita bisa melihat ketika Paulus dan Silas yang tengah terpasung di dalam
penjara memutuskan untuk tidak meratapi diri melainkan berdoa dan memanjatkan
puji-pujian kepada Tuhan. "Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan
Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang
hukuman lain mendengarkan mereka." (Kisah Para Rasul 16:25). Alkitab
kemudian mencatat hadirnya gempa menyelamatkan mereka (ay 26). Bukan itu saja,
tetapi keputusan mereka pun membawa pertobatan orang lain. (ay 30-33). Lihatlah
bagaimana besarnya kuasa di balik puji-pujian, dan itu semua bisa terjadi
karena ada Tuhan yang bertahta/bersemayam di atas puji-pujian. Itu dinyatakan
jelas dalam kitab Mazmur: "Padahal Engkaulah Yang Kudus yang
bersemayam di atas puji-pujian orang Israel." (Mazmur 22:4).
Kelelahan sering kali begitu menyiksa kita, dan membuat kita kehilangan
semangat untuk melakukan hal-hal lain termasuk tetap menyediakan waktu untuk
merenungkan Firman Tuhan, bersekutu denganNya apalagi untuk menyanyikan
puji-pujian dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Berbagai aktivitas atau
pekerjaan yang melelahkan seringkali merampas sukacita dari dalam diri kita,
dan kita pun semakin menjauh dari Tuhan. Akibatnya kita akan terus menjadi
semakin lemah dan dalam keadaan demikian kita pun menjadi rentan terhadap
berbagai penyakit dan juga banyak hal yang bisa berujung pada dosa. Padahal apa
yang harus kita lakukan jelas.
Tetap bersyukur
dan tetap puji Tuhan, menyanyilah bagiNya meski ketika kondisi sedang tidak
kondusif secara logika sekalipun, dan lihatlah bagaimana kuasa yang ada di
balik puji-pujian ternyata mampu memberi kekuatan dan semangat baru
bagi kita. Jika menyanyi saja sudah bisa menghibur kita, sebuah puji-pujian
yang kita angkat dari lubuk hati yang terdalam mampu berperan lebih dari itu.
Bukan saja kita memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan lewat puji-pujian tulus
dari hati kita, tetapi kita pun akan diberi kelegaan, kekuatan, semangat dan
sukacita baru untuk terus melangkah melewati hari demi hari yang sulit.
Adakah diantara
teman-teman yang merasa bahwa tenaga sudah habis terkuras tetapi pekerjaan
belum juga selesai? Adakah yang merasa kesal, sedih atau bahkan putus asa
karena timbunan pekerjaan tidak juga ada habisnya, dan mungkin merasa bahwa apa
yang anda dapatkan tidak kunjung sebanding dengan usaha yang telah anda
keluarkan? Percayalah Tuhan tidak menutup mataNya. Dia adalah Bapa yang baik,
yang sangat peduli dan mengasihi anak-anakNya. Jika demikian, maukah anda
bernyanyi memuji Dia bersama dengan saya malam ini?
Praise the Lord no matter what, He will give you more than enough strength
and spirit to overcome just about everything
IBADAH: Perayaan ibadah Paskah di Gereja Sinar Kasih.
TERNATE, SPM – Perayaan hari kematian Yesus Kristus
(paskah) oleh jemat Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH), berlangsung
di Gereja Sinar Kasih, kompleks Polres Ternate.
Ibadah yang berlangsung Jumat (29/3) kemarin, dipimpin Pendeta Abram
Ugu. Kepada Malut Post, Abram menjelaskan ibadah yang dilakukan tersebut
merupakan awal dari perayaan Paskah atau Jumat Agung. Puncak perayaan
akan dilakukan oleh masing-masing bidang pelayan, yang digelar Sabtu
malam dan Minggu (besok, red) sore. “Kegiatan ini selain berlangsung di
gereja, juga di pantai,”terangnya.
Pada kesempatan itui, dia meminta seluruh umat Kristiani di Malut, akan
merayakan Paskah dengan baik, karena Paskah adalah kabar suka cita
pembebasan, dimana maka umat Kristiani secara khusus dapat terlepas dari
segala bentuk beban dalam kehidupan, dan merasakan kehidupan yang lebih
tenang. “Dalam perayaan ini, diharapkan umat Kristiani dapat terlepas
dari segala beban dan merasa lebih nyaman serta tenang di Maluku
utara,”ujarnya. (cr-06/onk).